Thursday, February 9, 2012



ILMU MUSTHOLAH HADITS
Bukan untuk belajar menjadi ahli hadits, karena hanya melalui radio. Namun, tujuan kita adalah karena alasan: 
  1. Banyaknya ulama mengatakan banyak istilah hadits shahih, dsb. Sehingga kita paham istilah seputar ilmu hadits
  2. Banyak orang membawakan hadits Nabi, ternyata bukan hadits yang shahih, sehingga kita tahu mana yang lemah, mana yang palsu. Banyak kitab pun demikian, sehingga membuat ibadah tidak berdasar landasan yang kuat
  3. Untuk mengetahui kehebatan para ulama hadits, dan perjuangan mereka yang luar biasa, dalam mendapatkan dan menjaga hadits tersebut. Inilah nikmat dalam Islam, ada sanad (rantai perawi hadits), tidak seperti agama yang lain
  4. Orang yang mempelajari hadits di perguruan tinggi (cara yang tidak benar), melakukan penilaian yang jauh dari kaidah seharusnya atas suatu hadits
  5. Banyak orang (ulama) mengklaim keshahihan hadits satu, tapi di-dhaif-kan oleh ulama lain, maka semestinya kita harus paham tentang itu

KAIDAH ILMU HADITS, BAGAIMANA PENILAIAN ULAMA terhadap HADITS, dan ISTILAH

Pentingnya belajar hadits:
Merupakan perkara yang agung, karena hadits ini berfungsi untuk memahami Al Qur’an. Dan mempelajari hadits tak akan sempurna jika kita tak tahu mana yang shahih mana yang dhaif. Contoh : tentang perintah shalat, yang kemudian di jabarkan dalam hadits. Keutamaan Belajar Hadits adalah Membantu kita menghadapi perselisihan

Al Imam An Nawawi berkata, “di antara ilmu yang paling penting adalah mempelajari hadits nabi saw (yaitu mempelajari matan, mengetahui yang shahih/hasan/dhaif), buktinya syari’at kita dibangun di atas AL Qur’an dan sunnah, di atas sunnah inilah yang menjadi poros hukum-hukum fiqh, karena kebanyakan ayat fiqh sifatnya global dan penjelasannya hanya ada dalam sunnah/hadits nabi. Para ulama bersepakat bahwa syarat seseorang dikatakan mujtahid adalah ia harus berilmu yang wajib, maka menyibukkan diri dengan hadits nabi adalah ilmu yang paling penting, dan taqarrub yang ditekankan. Bagaimana tidak demikian, semesntara hadits nabi yang menjelaskan tentang rasul, makhluk yang paling utama. Sungguh, para ulama terdahulu lebih banyak disibukkan dengan hadits. Sampai-sampai di dalam sebuah majelis hadits berkumpul padanya penuntut ilmu hadits ribuan” – majelis imam hambal 120ribu-an orang - Tapi zaman imam nawawi, tidak tersisa lagi semangat itu kecuali sedikit.

Trus, bagaimana dengan zaman kita?

Kalau kita tahu mana hadits shahih dan yang tidak, maka kita akan terselamatkan dari dusta atas nama Rasul – menyiapkan tempat duduknya di neraka.

Kalau mempelajari hadits : hatinya akan bercahaya, ia akan bisa melangkahkah kepada tempatnya yang shahih, ia akan tahu suatu hukum dengan pemahaman yang shahih. Karena hadits itu banyak sekali faidah-faidahnya.

Ahli hadits = ahli nabi = yang dengan hadits2 itu mereka merasa bersahabat dengan rasulullah

Sabda Rasul, “Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah seseorang, yang mendengarkan sabdaku, lalu ia menghafalkan, dan mendakwahkannya”

Rasul mendoakan cahaya kepada orang yang belajar hadits…J

“sampaikan dariku walaupun satu ayat, dan ceritakan dari bani israil tidak apa-apa, dan siapa yang menggunakan namaku dengan dusta, bersiaplah menyiapkan duduk di neraka”

Bahaya Berdusta atas Nama Rasul:
Jika menyampaikan hadits, sementara dia masih ragu dengan keshahihan hadits tersebut, maka ia termasuk salah satu dari orang yang berdusta. Baru prasangka bahwa itu tidak shahih saja termasuk orang berdusta, apalagi jika tidak tahu sama sekali.

Contoh: Manusia makhluk social – adalah perkataan ibnu khaldun, bukan perkataan rasul

Banyak orang seenaknya menyampaikan hadits nabi, tanpa melihat itu shahih atau tidak. Kalau bukan karena adanya ulama hadits, maka niscaya ulama sindhiq akan berkhutbah di mimbar-mimbar.
Imam Syafi’I berkat, “Para ahli hadits itu di setiap zaman seperti sahabat di zaman mereka. Apabila aku melihat ahli hadits, seakan aku melihat sahabat rasulullah saw.”
Para ahli hadits lebih agung dari para fuqaha, karena ia lah yang menjaga kebenaran fiqh tersebut.

Pertanyaan :
1.       Hukum sumpah serapah dari orang tua non muslim yang tidak meridhai anaknya masuk Islam?
Sumpah itu tidak akan berlaku, dan tidak perlu risau atasnya. Hal itu karena Allah lah yang meridhai Islam sebagai agama kita.
2.       Adab dalam menyampaikan hadits Nabi?
Sampaikan sesuai keadaan saat menerima hadits itu, misal didapat dari Arba’in an Nawawiah. Berikan secara lengkap.
3.       Hal yang perlu disiapkan dalam mempelajari hadits
Niat yang ikhlas, dan kesungguhan.
4.       Apakah hadits hasan sederajat dengan hadits shahih? Tidak. Shahih > hasan > dhaif. Hadits hasan dikatakan ulama sebagai hadits yang sah. Shahih dan hasan sama-sama sah, tapi beda tingkat kekuatan haditsnya.
5.       Ahli hadits dari para wanita? Ada, tapi tidak sebanyak laki-laki.
6.       Hadits mengirim al Fathihah dan tahlillan? Rasul tidak pernah melakukan hal ini (tidak ada hadits yang shahih tentang hal ini). Hujjah mereka adalah bacaan Al Qur’an sampai ke mayit. Padahal, madzab imam syafi’I mengatakan tidak sampai. Seseorang tidak akan mendapatkan kecuali apa yang dia usahakan.
7.       Semua hadits itu semuanya berasal dari Rasulullah, baik itu dhaif atau shahih? Dhaif nya hadits ada 2 sebab : sanad tidak bersambung, dan perawi cacat.
8.       Riwayat singkat mengenai Syaikh Muhammad Nasiruddin Al Albani? Beliau adalah seorang ahli hadits yang berasal dari Albani, lalu dibawa ayahanda tercinta hijrah menuju Damaskus, dan sekolah di sana. Semenjak kecil, ia belajar kepada ayahnya, yang menguasai madzab hanafi. Beliau menghabiskan waktu 12 jam di perpustakaan untuk mendalami ilmu hadits tiap harinya.
9.       Sejauh mana hadits palsu atau dhoif bisa dijadikan hujjah untuk fadhail amal? Kalau dhaifnya ringan tetap tidak boleh dijadikan hujjah di dalam aqidah dan hukum, yang boleh hanya untuk fadhilah amal. Dhaif ringan hanya menghasilkan dugaan yang lemah, sedangkan dugaan lemah tidak boleh dipakai.
10.   Apakah diperbolehkan mencukupkan diri mengamakan hadits shahih sesuai dengan yang tertulis shahih pada hadits yang kita baca tanpa mengetahui bagaimana hadits itu dikatakan shahih? Jika memang itu cukup baginya, maka tak apa, tanyakan pada yang berilmu. Tapi setidaknya jangan sampai tidak mau belajar untuk sekedar tahu alasan mengapa hadits ini dhaif atau shahih, dst.

0 komentar: